Kamis, 03 Januari 2013

PERGESERAN POLA GAYA HIDUP REMAJA DI PEDESAAN



Pendahuluan
Kemajuan teknologi memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Salah satu teknologi yang sangat berpengaruh adalah teknologi informasi. Berkat kemajuan teknologi informasi, berbagai informasi yang terjadi di berbabagai belahan dunia dapat langsung kita ketahui. Orang bisa berkomunikasi dengan orang lain dalam jarak yang ber mil-mil jauhnya. Tak pelak lagi, kemajuan teknologi di bidang informasi telah menyebabkan adanya globalisasi.
Globalisasi biasanya ditandai dengan adanya liberalisasi, ekspansi pasar dan ekskalasi perilaku konsumtif di berbagai bidang kehidupan. Globalisasi bukan hanya melahirkan perubahan-perubahan baru dalam perilaku dan gaya hidup masyarakat, tetapi juga melahirkan perubahan struktur sosial masyarakat dan mempengaruhi dinamika kondisi perekonomian di berbagai level dari tingkat global hingga lokal.
Globalisasi –atau tepatnya globalisasi kehampaan-- merupakan bentuk penindasan model baru di era global, yaitu penindasan oleh komoditi-komoditi yang dikontrol, didistribusikan dan dimaknai secara terpusat oleh kekuatan modal yang lintas-negara atau perusahaan trans-nasional. McDonalisasi, korporasi global, Bank Dunia, WTO, dan sejenisnya adalah lembaga yang sekaligus menjadi simbol globalisasi yang dikritik telah merampas kekuasaan negara dan pemerintahan lokal, serta mengikis budaya tradisional.[1]
Kemajuan di bidang teknologi informasi dan globalisasi ini telah menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini, di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi). Kemajuan teknologi seperti radio, televisi, dan telepon  bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya, segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat. Dan diakui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat khususnya masyarakat pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas mereka.[2]
Salah satu perubahan yang nampak pada masyarakat desa adalah pola gaya hidup. Dalam hal ini, remaja merupakan kelompok masyarakat yang paling cepat dalam merespon dan mengadaptasi segala perubahan-perubahan yang terjadi terutama dalam hal gaya hidup. Gaya hidup ini meliputi berbagai aspek, mulai dari bagaimana mereka makan hingga perilaku. Dalam hal makan bisa dilihat dari makanan yang mereka konsumsi seperti fast food yang ditandai dengan keberadaan Mc.Donald, KFC, Quick Chicken dan sejenisnya. Dalam hal berpakaian fashion yang mereka kenakan seperti halnya apa yang mereka lihat dari televisi atau pengaruh sinetron. Dalam hal olahraga, kini semakin berkurang remaja-remaja desa yang melakukan cara-cara tradisional dan tergantikan oleh arena-arena futsal. Permainan-permainan tradisional serta kegiatan keagamaan dan pasrtisipasi dalam karang taruna mulai tergantikan dengan cafe sebagai tempat tongkrongan anak muda. Dalam hal berperilaku, nilai-nilai atau adab berperilaku yang baik mulai semakin tampak permisif. Sehingga pola gaya hidup yang tadinya tradisional kini bergerser ke arah gaya hidup yang konsumtif dan permisif atau bebas yang mulai mengabaikan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat pedesaan.

Gaya Hidup
Istilah gaya hidup (lifestyle) sekarang ini kabur. Sementara istilah ini memiliki arti sosiologis yang lebih terbatas dengan merujuk pada gaya hidup khas dari berbagai kelompok status tertentu, dalam budaya konsumen kontemporer istilah ini mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu. Tubuh, busana, bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaraan dan pilihan hiburan, dan seterusnya dipandang sebagai indikator dari individualitas selera serta rasa gaya dari pemilik atau konsumen.[3]
Gaya hidup adalah suatu titik tempat pertemuan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak, yang tertuang dalam norma-norma kepantasan. Terdapat norma-norma kepantasan yang diinternalisasikan dalam diri individu, sebagai standar dalam mengekspresikan dirinya. Estetikasi realitas melatarbelakangi arti penting gaya yang juga didorong oleh dinamika pasar modern dengan pencarian yang konstan akan adanya model baru, gaya baru, sensasi dan pengalaman baru.
Beberapa sifat umum dari gaya hidup adalah selain dilakukan secara terpola, dan sifatnya massal (dalam arti tidak ada gaya hidup yang sifatnya personal), biasanya gaya hidup juga mempunyai daur hidup (life circle), artinya ada masa kelahiran, tumbuh, puncak, surut dan mati. Gaya hidup dibentuk, diubah, dikembangkan sebagai hasil dari interaksi antara disposisi habitus dengan batas serta berbagai kemungkinan realitas. Dengan gaya hidup individu menjaga tindakan-tindakannya dalam batas dan kemungkinan tertentu. Berdasarkan pengalaman sendiri yang diperbandingkan dengan realitas sosial, individu memilih rangkaian tindakan dan penampilan mana yang menurutnya sesuai dan mana yang tidak sesuai untuk ditampilkan dalam ruang sosial di mana ia tinggal atau bergaul.[4]
Berdasarkan penelitian Lucky Lutvia mengenai gaya hidup remaja di Kota Bandung, disimpulkan bahwa remaja saat ini dipengaruhi oleh hal-hal berikut:
1. Transformasi Budaya
Budaya massa atau budaya populer yang berkembang melalui media massa elektronik dan cetak sangat berpengaruh terhadap pilihan gaya hidup seseorang, misalnya gaya berbusana, gaya berbicara atau bahasa, selera hiburan seperti musik dan film. Trend tersebut begitu bebas mengalir mempengaruhi setiap pemirsa maupun pembacanya, ditambah lagi dengan acara musik dari luar negeri yang diolah dalam video klip televisi, yang secara visual bisa kita lihat penampilan penyanyi dan pemain musiknya. Cara mereka berdandan dan berbusana sudah pasti sesuai dengan budaya mereka.[5]
2. Mengadopsi Gaya dari Barat
Ini banyak dipengaruhi oleh selebritis dalam negeri melalui iklan-iklan, film, dan sinetron yang dilihat dan akhirnya ditiru oleh remaja. Seperti istilah gaya funky, punk rock, metal, skaters, hip hop, sporty, streetwear, dan ska beserta penggunaan aksesorisnya yang mereka tiru sebagai usaha untuk mengaktualisasikan dirinya serta seolah-olah ingin mensejajarkan diri dengan bintang idolanya. Walaupun begitu remaja juga ada yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama, budaya dan kehidupan sosialnya.
Gaya hidup masyarakat desa dipengaruhi juga oleh mobilitas geografis seperti urbanisasi, imigrasi. Mobilitas geografis yang dimaksud adalah suatu keadaan di mana seseorang pernah menetap di luar tempat tinggalnya. Mobilitas geografis seseorang ke kota, misalnya, dapat mempengaruhi gaya hidup karena kota dianggap merupakan suatu tempat yang memungkinkan seseorang yang bersinggungan dengannya mendapatkan perluasan atau penambahan berbagai macam pengalaman dan pengetahuan baru. Ini terkait dengan realitas bahwa kota memiliki keanekaragaman budaya yang dapat ditiru oleh orang desa.[6]

Gaya Hidup Remaja Masa Kini
Dibandingkan kategori umur berapa pun, yang disebut remaja senantiasa menampilkan sosok yang super-dinamis, yang memiliki gaya hidup tersendiri: sebuah identitas sosio-kultural yang membedakan mereka dengan kelompok yang lain, terutama generasi tua yang dinilai sudah ketinggalan jaman. Di setiap era, bisa disaksikan bahwa yang namanya remaja senantiasa menampilkan dirinya dan mengembangkan perilaku, cara berdandan, cara berpakaian, potongan rambut, dan apapun tampilan yang penuh gaya dan berbeda dengan para generasi pendahulunya.
Gaya bukanlah sekadar ekspresi kelas dan prestise, tetapi ia adalah sistem yang menandai, yang mengkomunikasikan identitas dan perbedaan kultural. Subkultur kaum muda mengkomunikasikan  identitas khas mereka dan perbedaan mereka dari dan dalam oposisi terhadap teman sebaya, orang tua, dan budaya dominan melalui suatu politik gaya.[7] Singkat kata, yang dimaksud gaya hidup remajadi sini adalah adaptasi aktif yang dikembangkan kaum remaja di era modernitas terhadap perubahan yang berlangsung di sekitarnya dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Gaya hidup secara teoeritis mencakup sekumpulan kebiasaan, pandangan dan pola-pola respon terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup. Cara berpakaian, apa yang dikonsumsi, termasuk pilihan tokoh idola, bagaimana remaja mengisi kesehariannya merupakan unsur-unsur yang membentuk gaya hidup.
Dalam ilmu-ilmu sosial, studi atas remaja pertama kali dilakukan oleh sosiolog Talcott Parsons pada awal 1940-an. Berbeda dengan anggapan umum bahwa remaja adalah kategori yang bersifat alamiah dan dibatasi secara biologis oleh usia, menurut Parsons remaja adalah sebuah sebuah konstruksi sosial yang terus-menerus berubah sesuai dengan waktu dan tempat.[8]
Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia di mana ia tengah mencari jatidirinya dan biasanya dalam upaya pencarian jatidiri tersebut ia mudah untuk terikut dan terimbas hal-hal yang tengah terjadi di sekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka. Grossberg (1992) menganggap bahwa yang menjadi persoalan adalah bagaimana kategori remaja diartikulasikan dalam wacana-wacana lain, misalnya musik, gaya hidup, kekuasaan, harapan, masa depan dan sebagainya.
Jika orang-orang dewasa melihat masa remaja sebagai masa transisi, menurut Grossberg remaja justru menganggap posisi ini sebagai sebuah keistimewaan di mana mereka mengalami sebuah perasaan yang berbeda, termasuk di dalamnya hak untuk menolak melakukan rutinitas keseharian yang dianggap membosankan. Hampir sama dengan pendapat itu, Dick Hebdige dalam Hiding in the Light (1988) menyatakan bahwa remaja telah dikonstruksikan dalam wacana “masalah” dan “kesenangan” (remaja sebagai pembuat masalah dan remaja yang hanya gemar bersenang-senang). Misalnya, dalam kelompok pendukung sepakbola dan genggeng, remaja selalu diasosiasikan dengan kejahatan dan kerusuhan. Di pihak lain, remaja juga direpresentasikan sebagai masa penuh kesenangan, di mana orang bisa bergaya dan menikmati banyak aktivitas waktu luang.[9]
Remaja dalam kebudayaan populer dapat kita temukan dalam berbagai cerita yang menjadikan remaja sebagai pahlawannya atau lagu-lagu yang bertema masalah yang dihadapi remaja, informasi yang mengungkap mode dan gaya hidup lainnya untuk remaja. Tetapi yang utama bukan unsur yang mengandung keremajaan itu, melainkan golongan remaja sebagai pembeli. Menjadikan mereka sebagai pelaku, atau masalah mereka sebagai fokus, dengan sendirinya akan menggampangkan pemasaran suatu produk kebudayaan populer.
Berbagai media informasi menciptakan citra diri sebagai bagian kehidupan remaja kelas atas ini yang umumnya menginformasikan berbagai tata cara bergaul maupun perlengkapan hobi yang relevan bagi remaja. Sampai aksesoris yang cocok digunakan dalam berbagai kesempatan, merupakan informasi yang dianggap layak berita. Atau cerita para idola remaja yang mendominasi dunia hiburan yang gaya hidupnya sering mereka tiru.

Peran Teknologi Informasi Dalam Membentuk Gaya Hidup Remaja
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah menimbulkan berbagai persaingan antara produsen yang membuat teknologi informasi tersebut. Adanya persaingan ini jelas saja telah memungkinkan harga dari teknologi informasi yang beredar semakin terjangkau sehingga memungkinkan untuk dimiliki oleh setiap orang. Pada masa saat orang tua kita masih se-umuran kita, alat komunikasi memang sudah ada, namun masih belum se-canggih pada masa kita saat ini. Alat elektronik pun juga sebenarnya sudah ada, seperti radio dan televisi berlayar hitam putih. Namun, alat elektronik seperti itu masih sangat jarang orang yang memilikinya. Bukan karena itu kuno, namun karena bagi mereka harga elektronik itu sangat mahal. Berbanding terbalik dengan masa saat ini, sudah sangat jarang remaja yang hobby mendengarkan radio, bukan karena bagi mereka mahal, namun karena beranggapan radio merupakan salah satu alat elektronik kuno yang sudah ketinggalan zaman. Mereka lebih suka alat-alat elektronik yang lebih canggih dan modern. Seperti MP3 Player, MP4 Player, Laptop, Handphone dan smartphone seperti Blackbarry, IPod, IPad dan sebagainnya. Zaman dulu, televisi hanya berlayar hitam putih. Seiring dengan perkembangan model-model televisi sudah mulai berkembang jauh lebih canggih seperti TV LCD, TV LED, TV 3D, bahkan adapula Internet TV.
Telelevisi merupakan produk modernisasi yang memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan dan perubahan nilai-nilai di masyarakat khususnya para remaja. Banyak orang meniru gaya hidup dari publik figur yang mereka saksikan lewat televisi. Model baju selebritis terbaru, model potongan rambut terbaru, bahkan juga tak jarang meniru tingkah laku para selebritis yang mereka lihat lewat televisi, tanpa peduli apakah gaya hidup selebritis ataupun publik figur yang mereka tiru dan mereka jadikan sebagai role model itu sesuai dengan kondisi dan situasi dimana mereka tinggal atau tidak. Hal ini juga melanda kalangan remaja, dimana memang pada masa ini adalah masa dimana mereka para remaja mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja, serta menjadikan role modelnya itu sebagai identitasnya. Tak heran jika kita dapati banyak para remaja meniru gaya para selebritis idola mereka, dari mulai gaya rambut, gaya berbusana, bahkan gaya pacaran para artis yang mereka saksikan lewat televisi.
Dan sekarang ini, akibat produk modernisasi tersebut dapat kita lihat bahwa tak ada bedanya gaya hidup para remaja kota dengan remaja desa. Budaya barat yang dahulu hanya di adaptasi dan di tiru oleh remaja kota, dengan adanya kemajuan teknologi juga telah melanda remaja di pedesaan. Tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat pada orang tua, kehidupan bebas remaja dan lain-lain. Itulah yang sangat kita sayangkan dari remaja kini, yang seharusnya mereka menjadi peran penerus pahlawan bangsa. Semakin sedikit generasi muda yang melestarikan musik, tarian, dan budaya tradisional kita. Dan banyak remaja yang mengikuti cara berpakaian yang cenderung tidak memperlihatkan kesopanan. Kemudian budaya tolong menolong yang dahulu lekat dengan remaja desa, lambat laun berkurang meski tidak hilang sama sekali, berganti dengan budaya individualistik. Budaya santun dan lugu yang juga menjadi ciri khas mereka perlahan mulai pudar dan berganti dengan budaya urakan yang dengan bangga mereka sebut dengan istilah gaul.[10]

Pergeseran Gaya Hidup Remaja di Pedesaan
Gaya hidup dapat diidentikkan dengan suatu ekspresi dan simbol untuk menampakkan identitas diri atau identitas kelompok. Gaya hidup dipengaruhi oleh nilai-nilai tertentu dari agama, budaya, dan kehidupan sosial, demi menunjukkan identitas diri melalui ekspresi tertentu yang mencerminkan perasaan. Gaya hidup saat ini telah menghilangkan batas-batas budaya lokal, daerah, maupun nasional karena arus gelombang gaya hidup global dengan mudahnya berpindah-pindah tempat melalui perantara media massa. Gaya hidup yang berkembang lebih beragam, tidak hanya dimiliki oleh suatu masyarakat saja. Hal tersebut karena gaya hidup dapat ditularkan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalu media komunikasi.[11]
Perkembangan yang bisa dianggap menonjol dalam pergeseran gaya hidup yang melanda kalangan remaja Indonesia adalah gaya hidup mereka yang secara umum cenderung dipengaruhi oleh gaya Barat, khususnya dari Amerika Serikat. Namun, selain itu ada juga sekelompok remaja yang gaya hidupnya dipengaruhi oleh nilai-nilai agama tertentu (Islam). Pengaruh gaya hidup Barat tersebut, antara lain, terlihat dari cara berpakaian serba minim yang dianggap sebagai trend berpakaian modern, penggunaan berbagai pernak-pernik buatan luar negeri, kegemaran terhadap musik dan film yang berasal dari Barat, serta mulai diterapkannya nilai-nilai pergaulan ala Barat dalam keseharian. Meski demikian, ada juga remaja yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama (khususnya agama Islam) dan masih menjunjung tinggi budaya Indonesia, misalnya dengan tetap menggunakan busana muslim dan muslimah, menyukai lagu-lagu religius, serta mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia saat bergaul dengan orang lain.
Gaya hidup remaja pedesaan pada masa dahulu selalu diidentikkan dengan gaya hidup yang dipengaruhi oleh nilai agama dan budaya setempat, misalnya saja dalam hal berpakaian terkesan sederhana dan tidak mengikuti mode karena belum terlalu berkembangnya media massa di pedesaan. Dalam pilihan hiburan, mereka umumnya menyukai musik atau lagu tradisional dari daerahnya, serta menyukai film dalam negeri.
Pergaulan remaja pria dan perempuan pun tidak sebebas sekarang, tidak boleh berpegangan tangan di tempat umum, remaja pria tidak bebas berkunjung ke rumah remaja perempuan, pergaulan remaja pria dan perempuan masih sangat tabu. Peranan keluarga dan orang tua sangat penting dalam pembentukan kepribadian. Namun, seiring perkembangan arus urbanisasi dan penetrasi media, keunikan gaya hidup tadi semakin memudar. Bahkan kini sulit untuk membedakan identitas remaja desa dan kota bila hanya sekedar melihat gaya hidupnya saja. Setiap enam bulan sekali, industri mode mengeluarkan tawaran mereka mengenai apa yang akan paling terbaru saat enam bulan mendatang. Dan inilah yang berusaha untuk diikuti oleh kalangan remaja agar mereka tidak dianggap ketinggalan zaman. Julukan modis, trendy, kosmopolitan dianggap sebagai simbol bahwa seseorang lebih mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini bagi remaja disimbolkan dengan gaya hidupnya yang sesuai dengan trend gaya hidup masa kini baik cara berpakaian, cara berbicara, selera terhadap musik atau hiburan.
Jika dulu remaja perempuan maupun laki-laki di desa cara berpakaian, berbicara, tata krama serta bergaul dengan lawan jenis merujuk sesuai norma-norma setempat misalnya remaja putri selalu memakai kain atau rok, saat ini mungkin lebih sering memakai celana jeans karena dianggap lebih praktis mendukung aktivitas di luar rumah, mereka bersikap sopan santun dan tabu bergaul dengan lawan jenis. Sedangkan pada remaja pria desa dahulu menggunakan celana panjang, sarung, berkopiah, juga bersopan santun dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Namun sekarang karena pengaruh media dan kota cenderung terjadi perubahan gaya hidup di kalangan remaja desa dan itu terlihat dari gaya berpakaian, pergaulan yang sedang trend di kalangan remaja pedesaan.
Perubahan gaya hidup Timur ke gaya hidup Barat yang mempengaruhi kalangan remaja melalui media, di mana sekarang remaja dapat mengetahui semua yang terjadi di bagian dunia lain dengan mudah. Dengan cara mengakses informasi dari media televisi dan menyaksikan gaya hidup yang dipertontonkan oleh kalangan selebriti atau idola-idola remaja masa kini yang kerap kali menjadi simbol identitas atau identifikasi jati diri remaja masa kini.
Perubahan gaya hidup pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut gaya hidup yang sedang in. Remaja dalam perkembangannya dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.

Catatan Penutup
Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Setiap teknologi memberikan efek positif dan negatif, tentu saja kemajuan teknologi ini juga menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya.
Remaja merupakan kelompok masyarakat yang paling cepat merespon dan aktif beradapasi dengan kemajuan teknologi serta berbagai perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat, karena masa remaja adalah  masa dimana  mereka mencari  identitas diri, oleh karena itu pada masa ini orang tua harus berperan aktif dalam hal menerapkan pola asuh yang baik bagi remaja dan orang tua harus bisa memahami psikologi remaja agar tidak terjadi salah pola asuh, karena hal ini akan berakibat buruk pada saat remaja menginjak masa dewasa, karena anak akan menjadi anak yang nakal dan akan menjadi  pembangkang  dalam  keluarga serta konsumtif karena masuk dalam perangkap pasar untuk memenuhi tuntutan gaya hidup yang diciptakan oleh kapitalis.
Untuk mencegah agar remaja di pedesaan maupun remaja secara umum agar tidak makin larut dalam perangkap pasar yang diciptakan kekuatan kapitalisme, sudah barang tentu bukanlah hal yang mudah. Di era masyarakat potmodern, harus diakui seluruh unsur budaya baru dan perangkat teknologi yang ada menyebabkan peluang remaja untuk keluar dari cengkeraman kekuatan kapitalisme menjadi jauh lebih sulit. Mendekonstruksi dan kemudian merekonstruksi kembali gaya hidup dan perilaku remaja agar tidak masuk dalam pusaran kekuatan industri budaya, selain membutuhkan counter culture yang sama-sama memiliki daya tarik yang menyenangkan tetapi tetap produktif, yang tak kalah penting adalah bagaimana membongkar hegemoni dan kesadaran palsu yang dikonstruk kekuatan kapitalisme melalui upaya pengembangan gaya hidup dan kesdaran baru yang kritis terhadap semua bentuk penjejasan budaya dunia industri.
            Dalam perspektif teori kritis, sikap yang selalu resisten terhadap dominasi ideologi dan pengembangan cara berpikir yang dialektis sesungguhnya adalah modal awal yang dibutuhkan untuk melawan hegemoni kekuatan kapitalisme. Artinya, berharap remaja sebagai generasi muda dapat mengembangkan kesadaran baru agar tidak terjerumus dalam perilaku konsumsi yang berlebihan, niscaya tidak akan pernah kesampaian jika semangat perlawanan itu tidak tumbuh dari dalam diri mereka sendiri, yakni segera mengambil jarak dengan perangkap industri budaya dan kembali menoleh kepada kearifan berbagai budaya non-kapitalime yang sebelumnya menjadi akar historis eksistensi manusia. Sebuah pilihan yang tidak mudah, penuh dilema, tetapi merupakan keniscayaan.




DAFTAR PUSTAKA

Antariksa. 2005. Remaja, Gaya, Selera. (Online), (http://www.kunci.or.id/diakses 26 Juni 2012

Fatherstone, Mike. 2005. (penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth). Postmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hastuti, Sri & Lina Sudarwati. GAYA HIDUP REMAJA PEDESAAN (Studi di Desa Sukaraya, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara). Medan: Fisip USU.

Lutvia, Lucky. 2001. Jurnal Seni Rupa dan Desain. Bandung: P3M

Piliang, Yasraf Amir, 2003. Hipersemiotika, Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Purnomo, Mangku. 2004. Pembaruan Desa. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama

Rasyid, Amin Rasyid, Amin. 2005. Resistensi dalam Gaya Hidup. (http://www.kompas.com/diakses 23 Juni 2012).

Ritzer, George, 2006. The Globalization of Nothing, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi.  Yogyakarta: Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Storey, John, 2007. Culture Studies dan Kajian Budaya Pop, Pengantar Komprehensif Teori dan Metode.  Jakarta & Bandung: Jalasutra.





                                                                                                                


[1] George Ritzer. The Globalization of Nothing, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi.  (Yogyakarta: Universitas Atmajaya Yogyakarta, 2006)
[3] Mike Fatherstone (penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth). Postmodernisme dan Budaya Konsumen. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005) hal. 201
[4]Yasraf Amir Piliang. Hipersemiotika, Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. (Yogyakarta: Jalasutra, 2006).
[5]Lucky Lutvia. Jurnal Seni Rupa dan Desain. (Bandung: P3M, 2001) hal. 34
[6] Mangku Purnomo. Pembaruan Desa. (Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama, 2004) hal. 10
[7] John Storey. Culture Studies dan Kajian Budaya Pop, Pengantar Komprehensif Teori dan Metode.  (Jakarta & Bandung: Jalasutra, 2007) hal. 153
[8] Barker, 2000 Dalam Antariksa. 2005. Remaja, Gaya, Selera. (Online), (http://www.kunci.or.id/diakses 26 Juni 2012).
[9] Dalam Sri Hastuti dan Lina Sudarwati. GAYA HIDUP REMAJA PEDESAAN (Studi di Desa Sukaraya, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara) (Medan: Fisip USU).
[11] Amin Rasyid, Amin. 2005. Resistensi dalam Gaya Hidup. (Online), (http://www.kompas.com/diakses 23 Juni 2012).

3 komentar:

  1. Masih ada sebagian kecil remaja yang tidak terpengaruh (atau mungkin terpengaruh namun sangat minim pengaruhnya). Dan dari apa yang saya amati, mereka tidak terbawa arus karena adanya kontrol yang ketat dari orang tua.
    Mirisnya, di pedesaan (domisili saya tinggal) kebanyakan orang tua tidak peduli dengan anaknya (dalam hal ini: lingkungan, pergaulan, etika/tata krama, bahkan pendidikan anak). Mereka tidak pernah berpikir tentang masa depan anaknya, mereka hanya berlomba menumpuk harta, kemudian pamer ke tetangga.
    Bagaimana dengan lingkungan di sekolah? peran dari para guru? atau mungkin sistem pendidikan yang hanya mengukur nilai di atas kertas?

    BalasHapus
  2. oleolaole:
    peran orang tua memang begitu penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Yang menjadi kendala kemudian adalah tingkat pendidikan dari orang tua tersebut yang berpengaruh terhadap cara atau pola mereka dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Selain itu, pola hubungan antara orang tua dan anak yang masih banyak kita jumpai bahwa orang tua menempatkan anak pada posisi subordinat sehingga orang tua merasa paling berhak dan benar yang menyebabkan anak-anak terkadang lebih merasa nyaman ketika bersama teman-teman sebaya daripada orang tua mereka. Maka tidak heran jika teman sebaya ini justru memiliki peranan yang lebih besar dalam kehidupan si anak. Persoalannya adalah apakah teman sebaya ini memiliki karakter positif atau negatif. oleh sebab itu sudah saatnya orang tua menempatkan anak pada posisi egaliter atau sejajar sehingga anak akan lebih nyaman berkomunikasi dan menjadikan orang tua sebagai referensi utama. Tentunya ini juga harus didukung oleh latar belakang pendidikan orang tua pula. Jika pada masyarakat kota mungkin sebagian besar orang tua sudah berpendidikan tinggi, maka berbeda dengan karakteristik orang tua di desa yang rata-rata tingkat pendidikannya kurang sehingga kurang perduli dengan masa depan anak.

    BalasHapus
  3. Meski demikian, ada juga remaja yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama (khususnya agama Islam) dan masih menjunjung tinggi budaya Indonesia, misalnya dengan tetap menggunakan busana muslim dan muslimah, menyukai lagu-lagu religius, serta mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia saat bergaul dengan orang lain.

    Apa budaya Muslim dan Muslimah itu budaya Indonesia? Islam itu Agama atau budaya? bila suatu Agama mempengaruhi budaya disuatu daerah, ini berati pergeseran budaya juga kan?

    BalasHapus